Bangkitnya Petani Kopi dari Perbukitan Seribu Batu
Pada awal tahun 2012, sekelompok petani di lereng Patuk dan Ponjong berkumpul dengan satu mimpi sederhana: membuktikan bahwa tanah Gunungkidul—yang dikenal sebagai Bumi Handayani—mampu melahirkan kopi berkualitas tinggi. Berawal dari 15 petani dengan bibit swadaya yang ditanam di sela-sela pohon jati dan mahoni, kini Kelompok Tani Kopi Bumi Handayani telah berkembang merangkul lebih dari 120 kepala keluarga di 5 kecamatan. Melalui pelatihan petik merah, pembangunan rumah jemur kolektif, dan sistem pembelian harga adil (fair trade), para petani kini tidak lagi menjual biji kopi mentah ke tengkulak dengan harga murah, melainkan menghasilkan biji kopi sangrai yang dinikmati pecinta kopi di seluruh Indonesia.


